Pertama kali saya bertemu Momo, begitu beliau biasa disapa, pada akhir tahun lalu di acara pameran bertajuk Street Dealin. Perhelatan tahunan yang diadakan Garduhouse, wadah terbesar komunitas graffiti di Indonesia, itu diadakan di dua titik lokasi – salah satunya The Third Eye Studio, tempat saya dan Mas Momo bertemu.
Sebelumnya, saya mengenalnya lewat aktivitasnya di dunia street art dengan kelompok FAB Family-nya, yang berbasis di Bandung. Saya memperkenalkan diri sebagai penulis yang berfokus pada bidang kesusastraan dan sejarah. Karena tertarik dengan karya tulis saya, dia pun menawarkan ajakan bisnis tersebut: mengisi konten video di salah satu media online.
Hari rencana pertemuan itu pun tiba. Meskipun baru sembuh dari sakit, saya tetap memaksakan. Kami membuat janji untuk bertemu di Kedai Sue Ora Jamu, yang terletak di Jalan Petogogan.
Adzan Ashar berkumandang. Macet belum menunjukkan amarahnya. Saya melesat, dengan menggunakan sepeda motor matic saya menelusuri jalanan selatan Jakarta. Setelah beberapa menit menunggu, Mas Momo tiba dengan seorang kawannya yang juga tak asing di mata saya. Setelah turun dari motor, dia memperkenalkan diri sebagai Dirga.Bagaimana Memahami Gempa Sebagai Kemarahan AlamRead more
Mempraktikkan “Senyap”, Merekonstruksi Memori dan Imaji 
Mas Momo mulai memaparkan maksud dan tujuannya. Ia ingin membuat konten video seperti yang dilakukan kawan jejaring saya, Cania Citta Irlanie, yang telah mapan dengan projek vlog-nya.
Saya kira, saya akan menjadi penulis skenario untuk konten tersebut. Ndilalah, saya malah ditawari untuk menjadi ujung tombak sorotan kamera. Rencananya, kami membuat sesi wawancara. Mengingat, hobi saya yang mudah membuka obrolan untuk hal-hal penting – namun tak terlalu serius, karena saya juga suka bercanda, saya terima tawaran (baca: tantangan) itu. Namun, belakangan kami batalkan rencana tersebut, karena setelah dihitung-hitung kok malah tekor.
Setelah saya pertimbangkan lagi, sepertinya pertemuan tersebut tidak nihil-nihil amat. Sesi obrolan betul-betul berkesan. Kami membuka lemari kerja memori kami lagi. Imaji akan memori sejarah yang kami simpan dalam otak, perlahan masing-masing kami buka secara gamblang. Dengan atau tanpa disadari, kami mengulangi lagi adegan-adegan dalam film Senyap: sesi tanya-jawab korban dan pelaku peristiwa 1965. Jika Senyap menampilkan adik korban dan pihak yang terlibat langsung, obrolan kami mempertemukan keturunan yang terlibat.
Mata kami pun basah. Sesekali kami menunduk, menengadah, dan tersenyum pahit. Begitu getir. Begitu berkesannya.
Menolak Lupa, Bukan Berarti Sibuk Meratapi  
Usut punya usut, saya dan Mas Momo ternyata satu kampung. Sama-sama Wonogiri, dari keturunan bapak. Pantas, sama-sama gampang SKSD (baca: sok kenal, sok dekat), podo-podo Wonogiri, celetuk saya. Cauvinisme-nya kental, timpal kawan Mas Momo. Agak terkejut Mas Momo, setelah saya katakan bahwa bapak saya Golkar sewaktu muda. Mestinya orang Solo dan sekitarnya itu PDI, kira-kira begitu dia bilang. Saya jelaskan, beliau sangat Soehartois karena ayahnya dulu seorang penandu Jenderal Soedirman, dan kolega Soeharto ada di daerahnya. Bahkan pembangunan Waduk Gajah Mungkur begitu amannya, bila dibandingkan Kedung Ombo yang cukup runyam.
Kini giliran Mang Dirga, kawan Mas Momo yang sedari tadi menimpali, jadi fokus pembicara. Saya memanggilnya “Mang”, karena dia asli Garut. Basis dari sisa-sisa DI/TII, tuturnya. Panggilan itu tidak berlebihan, karena memang mereka berdua lebih tua sepuluh tahunan dari saya. Mereka pun terkejut dan tertawa  mendengar fakta tersebut. Saya pun menjelaskan, saya biasa bergaul dengan yang lebih tua.
Belum sempat Mang Dirga berbicara, adzan Maghrib sayup-sayup berkumandang. Kami menunda obrolan. Lampu-lampu di ruangan kami berkumpul, terasa lebih hangat. Minuman yang kami pesan, perlahan habis kami seruput. Lantunan merdu dari penyanyi wanita, yang  terdengar seperti suara Carla Bruni, menyelinap di belakang telinga saya, mencuri perhatian dari meja operator.
Obrolan pun berlanjut. Mang Dirga bercerita tentang pengalamannya dulu mengerjakan skripsi dengan melibatkan Ucok, vokalis group band hip-hop bertema politik bernama Homicide, sebagai narasumber. Perlahan bahasan kembali lagi pada pengalaman orangtua kami. Seperti dedengkot musik bawah tanah di Bandung tersebut, ayah Mang Dirga juga seorang Sukarnois.
Saya memaklumatkan, dengan mengingat Mayjen. Ibrahim Adjie, Pangdam Siliwangi yang juga Sukarnois. Daerah Jawa Barat bersih dari penumpasan karena perintah panglima kodam tersebut. Kesulitan menimpa ayah Mang Dirga setelah Orde Baru berkuasa. Beliau mendapat tanda khusus di KTP-nya. Mang Dirga menceritakannya dengan terus menengadah, sambil melirik dengan lirih, pertanda menggali memori pahit.
Suasana getir begitu terasa. Sambil bernafas pelik, saya melirik Mas Momo, menanyakan bagaimana yang terjadi di kampung orangtuanya, kampung orangtua saya juga. Dia tak langsung menjawab. Orangtuanya termasuk kontra Soeharto, begitu ia coba jelaskan. Cukup berseberangan dengan orangtua saya.  Padahal letak kampung halaman ayah kami berdua hanya berbeda kecamatan.Pemblokiran Telegram: Hasil Miskomunikasi dan Kepanikan KemkominfoRead more
“Kolonel Sarwo Edhie dulu turun langsung ke kampung bokap,” saya coba menerangkan. Mereka serius, menyimak. “Mbah gua hampir diciduk, untungnya setelah didata, dia terbukti kalau dulunya ikut gerilya. Yang patroli satu-satu gedorin rumah warga itu, pangkatnya masih bintara, sersan-sersan, padahal kalo Si Mbah gua anggota – pangkatnya minimal perwira menengah, mayor, mungkin. Ibaratnya, masih pada anak kemaren sore, tapi berani-beraninya nyuruh-nyuruh senior buat ngebantai tetangganya sendiri.” Saya bertutur, sinis. Wajah prihatin terpancar dari kedua rekan di depan saya.
Semenjak peristiwa itu, keluarga orangtua Mang Dirga mewanti-wanti jangan sampai terjun lagi ke dunia politik. Cukup sampai di situ. Saya dan Mas Momo terdiam, seolah mengamini: ya, mestinya konflik-konflik seperti itu pun cukup sampai di situ.
Peristiwa 1965 jauh mengakar sebagai konflik. Dia tidaklah berdiri tunggal pasca Gestapu (baca: akronim Gerakan September Tiga Puluh, istilah awal Gerakan 30 September yang paling “netral” – umumnya masih digunakan orangtua di daerah yang terlibat). Sentimen agama dan antar golongan nyata terjadi sejak pemilu 1955. Kediktatoran Presiden Sukarno turut menyumbang konflik besar tersebut terjadi.
Namun, sikap tegasnya menolak kekuatan 30.000 pasukan KKO & Brimob melawan pasukan Jenderal Soeharto, menjadi bukti bahwa beliau adalah pemimpin Indonesia terbaik. Sarwo Edhie sebagai komandan penumpas, dengan implisit mengakui dosanya pada Ilham Aidit dalam pertemuan mereka di Wanadri. Pengakuan Permadi dalam interview dengan Jaya Suprana pun, bisa dijadikan rujukan bahwa Pak Harto menjelang 1998, juga berbeda dengan beliau di masa setelah mendapat Supersemar. Pemimpin sekarang mestinya belajar dari kewibawaan masa lalu macam itu.
Saya selalu percaya, bahwa perubahan baik dapat dimulai dari diri sendiri. Menggantungkan harapan pada rezim tanpa kepemimpinan, bagaikan menjemur baju di malam hari. Rekonsiliasi dari diri sendiri dengan bertemu pihak yang liyan, jauh lebih bermanfaat ketimbang asyik mendirikan tembok-tembok ratapan.
Ini merupakan beban sejarah, bukan sekadar kalkulasi siapa yang paling korban.
Posting Rekonsiliasi ’65: Dimulai dari Diri Sendiri ditampilkan lebih awal di GEOTIMES.